Jangan memberikan hutang,
dan jangan pernah mengambil hutang!
Jangan pernah mau terpapar matahari ketika bekerja.
Pesan ini disampaikan ke dua orang anak oleh seorang tua sekarat.
Anak pertama, tidak pernah mau meminjam uang kepada siapapun. Demikian pula tidak mau meminjamkan uang kepada orang lain. Dia pun hanya melakukan aktifitas di malam hari.
Lama kelamaan sang anak kehabisan modal dan usahanya semakin redup.
Anak kedua, karena tak mau terjerat hutang selalu melakukan transaksi dengan kontan. Membayar tagihan jika sudah jatuh tempo. Karena tidak mau terpapar sinar matahari, maka ia berangkat bekerja di waktu subuh dan kembali pulang ketika malam menjemput.
Dua sudut pandang yang berbeda dalam berpola pikir.
Namun satu hal yang saya pegang kini adalah, jangan pernah memberikan hutang kepada orang lain sedekat apapun dia. Bahkan saudara sekalipun.
Mungkin sadis, tapi toh ketika kita sedang membutuhkan tak ada yang mau mencairkan pinjaman. Sekalipun hutangnya sudah melewati janji waktu yang ditetapkan.
Satu-satunya solusi dalam sulitnya hidup dan beban biaya yang semakin meningkat adalah mencari uang lebih banyak lagi.
Maka carilah uang sebanyaknya...
Pusing
Selasa, 09 Desember 2008
Senin, 09 Juni 2008
Bangkit itu...
Bangkit itu Susah
Susah melihat orang lain susah, Senang melihat orang lain senang.
Bangkit itu Takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya.
Bangkit itu Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan dengan Prestasi
Bangkit itu Marah!
Marah bila martabat bangsa dilecehkan.
Bangkit itu Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu.
Bangkit itu Tidak Ada
Tidak ada kata Menyerah
Tidak ada kata Putus Asa.
Bangkit itu Aku
Aku untuk Indonesiaku.
From: http://astutytuty.multiply.com/journal/item/16
(thanks to you!)
Gua suka kata-katanya. Dan terutama penyampai pesannya yang sangat efektif.
Padahal gua bukan orang yang suka sama puisi.
Tapi menurut gua puisi ini membangun dan menggugah.
Sayang gua ga bisa dapet dari situs aslinya.
Tapi mudah-mudahan bisa membangun banyak orang dan pemuda Indonesia.
Susah melihat orang lain susah, Senang melihat orang lain senang.
Bangkit itu Takut
Takut korupsi
Takut makan yang bukan haknya.
Bangkit itu Mencuri
Mencuri perhatian dunia dengan dengan Prestasi
Bangkit itu Marah!
Marah bila martabat bangsa dilecehkan.
Bangkit itu Malu
Malu jadi benalu
Malu karena minta melulu.
Bangkit itu Tidak Ada
Tidak ada kata Menyerah
Tidak ada kata Putus Asa.
Bangkit itu Aku
Aku untuk Indonesiaku.
From: http://astutytuty.multiply.com/journal/item/16
(thanks to you!)
Gua suka kata-katanya. Dan terutama penyampai pesannya yang sangat efektif.
Padahal gua bukan orang yang suka sama puisi.
Tapi menurut gua puisi ini membangun dan menggugah.
Sayang gua ga bisa dapet dari situs aslinya.
Tapi mudah-mudahan bisa membangun banyak orang dan pemuda Indonesia.
Manusia Biasa
Dari GKI Cimahi,
Pengantar Pelaksanaan Penahbisan Pendeta.
Maka, ia tidak perlu takut menjadi manusia biasa. Namun, keberadaannya sebagai manusia biasa tidak dijadikan alasan untuk menutupi kemalasan dan bahkan kekurangannya.
Sebaliknya, hal itu justru memotivasi diri untuk lebih mawas diri,
terus belajar dan terus meningkatkan serta mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik.
Baginya tidak dikenal perkataan "sudah selesai", melainkan "belum selesai".
Pengantar Pelaksanaan Penahbisan Pendeta.
Maka, ia tidak perlu takut menjadi manusia biasa. Namun, keberadaannya sebagai manusia biasa tidak dijadikan alasan untuk menutupi kemalasan dan bahkan kekurangannya.
Sebaliknya, hal itu justru memotivasi diri untuk lebih mawas diri,
terus belajar dan terus meningkatkan serta mengembangkan dirinya ke arah yang lebih baik.
Baginya tidak dikenal perkataan "sudah selesai", melainkan "belum selesai".
Selasa, 20 Mei 2008
Bersama Sahabat!
Seorang sahabat menjadi teman dalam kesenangan, dan menjadi saudara dalam kesukaran.
Hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan.
Tetapi semuanya ditebus dengan tawa canda. Tak ada yang bisa membayar kebersamaan dengan teman-teman.
Terutama berusaha untuk mengerti satu sama lain. Merelakan bagian kita menjadi milik bersama. Berusaha untuk tidak menjadi konyol di mata sahabat.
Perlukan persahabatan diuji?
Saya rasa tidak. Karena nilai yang dalam persahabatan akan terbukti seiring dengan berlalunya waktu. Menjalani proses rasanya lebih menyenangkan dibandingkan melakukan banyak perhitungan ribet untung rugi bersahabat.
Ujian sesungguhnya bukan ketika bersenang-senang, namun ketika salah satu dari sahabat dalam kesusahan.
Kapok bersahabat?
Rasanya tidak perlu ditanyakan lagi. Toh setiap persahabatan memiliki buahnya sendiri-sendiri. Jadi buat apa kapok?! Menaburlah terus di manapun.
So... waktunya untuk menikmati proses hidup, termasuk dalam proses persahabatan.
Selamat bersahabat!
Hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan.
Tetapi semuanya ditebus dengan tawa canda. Tak ada yang bisa membayar kebersamaan dengan teman-teman.
Terutama berusaha untuk mengerti satu sama lain. Merelakan bagian kita menjadi milik bersama. Berusaha untuk tidak menjadi konyol di mata sahabat.
Perlukan persahabatan diuji?
Saya rasa tidak. Karena nilai yang dalam persahabatan akan terbukti seiring dengan berlalunya waktu. Menjalani proses rasanya lebih menyenangkan dibandingkan melakukan banyak perhitungan ribet untung rugi bersahabat.
Ujian sesungguhnya bukan ketika bersenang-senang, namun ketika salah satu dari sahabat dalam kesusahan.
Kapok bersahabat?
Rasanya tidak perlu ditanyakan lagi. Toh setiap persahabatan memiliki buahnya sendiri-sendiri. Jadi buat apa kapok?! Menaburlah terus di manapun.
So... waktunya untuk menikmati proses hidup, termasuk dalam proses persahabatan.
Selamat bersahabat!
Langganan:
Postingan (Atom)