Seingat saya tidak ada film animasi indonesia yang pernah masuk layar lebar. Maka ketika Battle of Surabaya yang format kartun atau animasi hadir di bioskop, maka saya antusias sekali untuk menontonnya.
Film ini bercerita mengenai peristiwa-peristiwa kecil yang mungkin perannya besar dalam menunjang petempuran surabaya 10 November yang sangking heroiknya ditetapkan sebagai hari pahlawan. Tersebutlah Musa seorang anak yang menghidupi ibui dan dirinya sendiri menjadi tukang semir sepatu. Konsumen utamanya adalah para tentara, baik tentara Indonesia atau Barisan Keamanan Rakyat maupun pihak Jepang.
Pekerjaannya ini memiliki keuntungan untuk dapat bermobilisasi dengan aman dari satu tempat ke tempat lain tanpa dicurigai pihak lawan. Tentara perjuangan memanfaatkannya sebagai kurir pesan-pesan penting antar kesatuan satu dengan yang lainnya.
Tidak hanya dirinya yang menjadi kurir, ada juga seorang gadis cilik bernama Yumma. Gadis ini menjadi teman akrabnya sepanjang cerita film. Berlatar belakang nasib yang sama anak dari perempuan yang dijadikan "penghibur" ketika pendudukan Jepang, keduanya diceritakan sangat akrab. Kerap kali mengasingkan diri untuk bermain dan piknik bersama.
Konflik terjadi ketika bom atom meluluhlantakkan dua kota di Jepang sehingga menyatakan kalah perang dari sekutu. Peristiwa ini mendapatkan tempat penting karena menjadi gambaran awal yang ditampilkan di awal film. Kekosongan kekuasaan di Indonesia membuat bapak bangsa Soekarno Hatta memproklamirkan kemerdekaan Indonesia, sementara sekutu datang ke nusantara dimana Belanda membonceng tentara Inggris datang ke Surabaya.
Agresi inilah awal mula perang Surabaya. Digambarkan tentara sekutu masuk ke kampung-kampung dan dan mendapatkan perlawanan. Akibatnya banyak rumah penduduk yang hancur, termasuk rumah Musa dimana ibunya yang terbaring sakit pun meninggal karena tertimpa kayu di tengah tumah yang sedang terbakar.
Heroisme Musa adalah tetap melakukan tugasnya menjadi kurir pesan sekalipun tengah dilanda kesedihan. Dukungan dari sahabatnya Yumma dalam kesedihan turut menguatkan Musa. Nampaknya hendak diceritakan bahwa ada sedikit percikan sayang yang lebih dari sahabat di antara keduanya.
Musa memiliki keraguan kepada Yumma karena ia pernah melihat tato pada tubuh Yumma simbol keanggotaan klan Jepang yang berusaha menjaga Indonesia dalam keadaan status quo. Akan tetapi terbantahkan oleh adegan dimana Yumma membantu Musa ketika diculik klan Kipas Hitam, kemudian memilih berjuang sebagai tenaga medis perang.
Cerita yang dibangun cukup menarik sekalipun disajikan dalam tempo yang cukup lambat. Jangan harap film ini penuh dengan laga perang dan action, karena lebih banyak menyajikan drama sisi lain dari perang. Alur cerita berjalan maju mundur. Untuk menerangkan banyak hal, sering kali digambarkan pengalaman para tokoh dalam film dalam bayangan alam pikirannya. Cukup membantu dan tidak membuat penonton mereka-reka apa yang sebenarnya terjadi.
Melihat film ini sekilas akan terbawa dalam suasana film Jepang, karena semua karakter utama layaknya tokoh anime atau kartun Jepang. Mengutip Kompas, sutradara film ini memang kesulitan untuk mendapatkan karakter gambar tokoh Indonesia. Untuk menjangkau penonton remaja, maka dipilih tokoh-tokoh layaknya anime.
Battle of Surabaya menurut sutradaranya hendak mengangkat pesan bahwa dalam perang tidak ada kemenangan menguntungkan bagi pihak manapun. Nampaknya untuk mengingatkan untuk menghindari perang dalam kondisi apapun. Bagaimanapun kondisi kala itu menurut hemat saya membutuhkan perjuangan bersenjata sebagai perlawanan kolonialisme guna mendukung diplomasi.
Terlepas dari kekurangan-kekurangan yang saya rasakan terutama mengenai alur yang sangat lambat, film ini patut mendapatkan apresiasi. Semoga ini menjadi AADCnya film animasi atau kartun Indonesia yang membuka jalan dan menggairahkan sineas Indonesia melahirkan film animasi-animasi baru.
Sumber gambar:http://battleofsurabayathemovie.com/wp-content/themes/BOS%20V2/images/cover/New_Poster_Battle_of_Surabaya_the_movie_dolby.png