Pagi ini sebelum pelatihan dimulai, ada kasak kusuk di
teman-teman yang mengurusi kepegawaian. Ada staf yang mengikuti lelang jabatan
di instansi lain tetapi bermasalah. Hal yang mungkin sepele, atasannya tidak
merasa mengijinkan.
Pegawai Negeri Sipil berusaha bertransformasi menjadi
Aparatur Sipil Negara. Perubahan ini diharapkan bukan hanya perubahan nama
saja, melainkan tonggak awal profesionalisme abdi negara. Professional secara
sederhana dapat diartikan sebagai sangat ahli dan mumpuni di bidangnya.
Narasumber hari ini menyebutkan, menghadapi Asean Free Trade
Area (AFTA) yang sudah berlaku sejak akhir 2015 lalu, professional-profesional ASEAN
kini malang melintang berkarir di negara-negara anggota ASEAN. Sayangnya masih
menurut Waluyo sang narasumber, lebih banyak orang Singapura dan Malaysia yang
berburu pekerjaan professional di Indonesia dibandingkan WNI yang mengadu nasib
di negeri seberang.
Bapak Waluyo yang pernah berkarir di BP (migas?) dan KPK ini
mengendus kurang percaya dirinya professional Indonesia untuk bersaing. Besar kemungkinan
masalah bahasa pengantar sebagai penghambat.
Ancamannya adalah jangan sampai anak-anak bangsa hanya
menjadi penonton di negeri sendiri. Menyaksikan banyak eksekutif di perusahaan
besar, bahkan mungkin kelak di instansi pemerintah, berkewarganegaraan asing.
Baru saya tahu iuga kalau di negara-negara lain, PNS telah
dianggap sebagai salah satu profesi yang professional. Sangat lumrah orang yang
dari swasta masuk ke lingkungan birokrasi, kalau ingin mencari suasana baru
masuk lagi ke swasta untuk mendapatkan posisi karir yang lebih baik.
Kalau di indonesia wadahnya memang sudah ada melalui seleksi
lelang terbuka, yang juga dimanfaatkan pegawai kominfo yang saya sebutkan di
awal. Jadi ASN adalah pilihan berkarir.
Karena karir bukanlah pekerjaan melainkan tangga yang
menunjukkan rekam jejak professional kita yang dibuktikan dengan legacy, maka
sejak dini sudah bisa direncanakan bagaimana kita ingin karir kita kelak.
Menjadi ASN bukanlah kebuntuan karir, melainkan saluran peluang untuk berkarya. Strategi saya adalah menggunakan jalur fungsional untuk
mengejar ketertinggalan masa kerja dibandingkan teman seangkatan sampai IIID,
lalu menjadi professional structural di level itu atau di golongan ruang 4a.
Oya, setelah hampir dua minggu mengikuti pelatihan manajemen
perubahan (baca: revolusi mental), profesi yang menarik untuk dijajaki adalah
menjadi trainer, fasilitator, widyaiswara, dan dosen maupun guru.
Bukan hanya merupakan pekerjaan seumur hidup,
profesionalisme kerja yang dituntutnya membuat kita harus selalu memperbarui
diri dengan mengasah skill dan senantiasa menambah banyak pengetahuan.
Tabik
*Kamar A24 Pusdiklat Kominfo