Rabu, 21 September 2016

Menuju Profesional



Pagi ini sebelum pelatihan dimulai, ada kasak kusuk di teman-teman yang mengurusi kepegawaian. Ada staf yang mengikuti lelang jabatan di instansi lain tetapi bermasalah. Hal yang mungkin sepele, atasannya tidak merasa mengijinkan. 

Pegawai Negeri Sipil berusaha bertransformasi menjadi Aparatur Sipil Negara. Perubahan ini diharapkan bukan hanya perubahan nama saja, melainkan tonggak awal profesionalisme abdi negara. Professional secara sederhana dapat diartikan sebagai sangat ahli dan mumpuni di bidangnya. 

Narasumber hari ini menyebutkan, menghadapi Asean Free Trade Area (AFTA) yang sudah berlaku sejak akhir 2015 lalu, professional-profesional ASEAN kini malang melintang berkarir di negara-negara anggota ASEAN. Sayangnya masih menurut Waluyo sang narasumber, lebih banyak orang Singapura dan Malaysia yang berburu pekerjaan professional di Indonesia dibandingkan WNI yang mengadu nasib di negeri seberang. 

Bapak Waluyo yang pernah berkarir di BP (migas?) dan KPK ini mengendus kurang percaya dirinya professional Indonesia untuk bersaing. Besar kemungkinan masalah bahasa pengantar sebagai penghambat. 

Ancamannya adalah jangan sampai anak-anak bangsa hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Menyaksikan banyak eksekutif di perusahaan besar, bahkan mungkin kelak di instansi pemerintah, berkewarganegaraan asing. 

Baru saya tahu iuga kalau di negara-negara lain, PNS telah dianggap sebagai salah satu profesi yang professional. Sangat lumrah orang yang dari swasta masuk ke lingkungan birokrasi, kalau ingin mencari suasana baru masuk lagi ke swasta untuk mendapatkan posisi karir yang lebih baik. 

Kalau di indonesia wadahnya memang sudah ada melalui seleksi lelang terbuka, yang juga dimanfaatkan pegawai kominfo yang saya sebutkan di awal. Jadi ASN adalah pilihan berkarir.
Karena karir bukanlah pekerjaan melainkan tangga yang menunjukkan rekam jejak professional kita yang dibuktikan dengan legacy, maka sejak dini sudah bisa direncanakan bagaimana kita ingin karir kita kelak.

Menjadi ASN bukanlah kebuntuan karir, melainkan saluran peluang untuk berkarya. Strategi saya adalah menggunakan jalur fungsional untuk mengejar ketertinggalan masa kerja dibandingkan teman seangkatan sampai IIID, lalu menjadi professional structural di level itu atau di golongan ruang 4a.

Oya, setelah hampir dua minggu mengikuti pelatihan manajemen perubahan (baca: revolusi mental), profesi yang menarik untuk dijajaki adalah menjadi trainer, fasilitator, widyaiswara, dan dosen maupun guru.

Bukan hanya merupakan pekerjaan seumur hidup, profesionalisme kerja yang dituntutnya membuat kita harus selalu memperbarui diri dengan mengasah skill dan senantiasa menambah banyak pengetahuan.

Tabik

*Kamar A24 Pusdiklat Kominfo