Selasa, 24 Maret 2015

Buktinya adalah Kutipan




Apa bukti kalau kita sudah menonton sebuah film, mendengarkan music dan lagu, dan membaca sebuah tulisan, puisi atau buku. Paling tidak mungkin bias menceritakan ulang apa yang kita dapatkan dan maknai. Atau lemari buku menjadi semakin sesak, harddisk laptop kita menjadi semakin penuh, menambahkan rekomendasi skor dalam situs ulasan online. 

Kemarin menonton serial “The Last Man on Earth”. Todd, lelaki kedua terakhir di bumi nyambung dengan Melissa, perempuan kedua terakhir di bumi, ketika membicarakan film favoritnya. Sang tokoh utama berusaha memikat Melissa yang menurutnya jauh lebih menarik dan cantik dari istrinya, perempuan pertama terakhir di bumi, dengan menyampaikan film favoritnya. Celakanya Ia tidak mampu memberikan kutipan kalimat yang menurutnya paling bermakna dalam film favoritnya. Sementara Todd saingannya mampu mengutip dengan lugas.

Kalau kita menyukai sebuah karya film atau buku atau lagu, ternyata kita mungkin diukur dengan mampu tidaknya kita menceritakan ulang bahkan mengutip ulang kalimat yang ada di dalamnya.
Kalau lagu mungkin akan lebih mudah, karena entah kenapa sambil bersenandung mulut kita akan secara otomatis menyanyikan syair lagu kesukaan kita. Tidak jarang malah “menular” ke orang lain di sekitar kita. Pernah merasakannya? Kita mendengarkan orang menyanyikan lagu Cita Citata – “Sakitnya tuh Di Sini”, maka seharian kita menyenandungkan lagu yang sama.

DI dunia akademis sih lebih jelas, kalau kita mengklaim sudah membaca dan kita anggap mampu menguatkan penelitian kita maka kutipan bacaan wajib disertakan. Bahkan sampai ke tahun dan halaman dari buku yang menjadi sumber rujukan sebagai bukti peneliti detail dan dapat dibuktikan lagi di kemudian hari.   

Seharusnya begitu juga yang terjadi apabila kita membaca buku atau setelah habis menonton televisi. Akan tetapi memang harus diperhatikan juga repetisi atau jumlah ulangan membaca atau menonton. Semakin sering kita menonton atau membaca atau mendengar, maka akan semakin banyak yang lekat di ingatan. Tidak heran kalau Sheldon dan teman-temannya rutin setahun sekali menonton Star Wars bersama gangnya hehe..

Nampaknya memang ada tingkatan kita dalam memperhatikan karya budaya manusia. Dan nampaknya saya belum bisa sampai pada tingkat memperhatikan dengan detail sehingga mampu mengutip kaimat yang dirasakan berkesan untuk disampaikan ulang. Nampaknya memang harus banyak belajar lagi, supaya tidak semua dikerjakan dengan skimming sehingga semua pengalaman di dunia yang indah ini hanya sambil lalu saja.

Tidak ada komentar: