Rekan kantor keluar dari toilet, ia baru saja bersiap akan
sembahyang sore. Kami lalu menyorakinya, tumben-tumben sembahyang. “Weits… Yang
mau umroh mendadak rajin euy”, diiringi tawa keras. Belum lama ia memang bilang
akan melakukan wisata dan ibadah rohani. Wajahnya pun memerah sambil mulutnya
bingung hendak berkata apa. Padahal biasanya balasan ledekan yang lebih pedas
akan cepat keluar dari mulutnya.
Tas sudah ditaruh di rak di atas KRL, tinggal mengatur
posisi kaki dan ponsel pun diambil dari kantong bersiap memainkan gim. Kemudian
terdengar suara dari kabin masinis mengingatkan mengenai tujuan KRL menuju
Bogor, supaya tidak ada penumpang yang salah naik. Disambung dengan kalimat
yang sama berbahasa Inggris. Dua perempuan di sampingku mendadak ramai, “biasa
aja kali, ga usah pake Bahasa Inggris. Ga tau kali ya penumpangnya orang Bojong
semua hahaha…”, ujar salah satu. Yang lain pun membalas, “kayanya ada bacaannya
di bawahnya tuh”. Tidak yakin dengan kefasihan orang yang berbicara dari kabin.
Padahal sepertinya bahasa Inggris yang terdengar lumayan baik pengucapannya,
setidaknya bagi telingaku yang budeg ini.
Nyinyir, rasanya itu kata yang tepat menggambarkan. Lebih mudah
memang berkomentar dan nyinyir (kbbi: cerewet). Padahal kalau mau berkaca,
mungkin kita belum pantas untuk nyinyir. Belum beribadah rutin dan berkualitas.
Belum berani bersuara dengan bahasa asing di forum dengan banyak orang.
Nyinyir sih sepertinya tidak apa-apa, selama memang sudah
bisa menunjukkan kepada orang lain kemampuan kita dan mendapatkan pengakuan
orang lain.
Siang ini menggunakan jaringan internet di kantor (ya ini mungkin
salah satu bentuk korupsi heheh…) menonton Hell’s Kitchen Indonesia. Kalau
versi Hollywood mengandalkan kegalakan Chef Gordon Ramsay, maka “devil” di
versi Indonesia adalah Chef Juna. Sebanyak 22 orang laki-laki dan perempuan
yang menjadi peserta reality show ini harus memasak di dapur restoran Hell’s
Kitchen di bawah tekanan dan teriakan Chef Juna. Tidak jarang mendapatkan
perkataan melecehkan. Tapi ini justru menjadi daya Tarik acara ini, dan semua
penonton menerimanya karena merasa Chef Juna pantas untuk nyinyir karena
kapasitasnya sebagai chef sudah tidak diragukan lagi.
Jadi nyinyir sih tidak dilarang, tapi sesuaikan dengan
kapasitas diri. Harus terus upgrade kapasitas setiap hari. Rasanya sempat juga
terbaca atau terdengar hari ini, bodoh kalau kita bersaing dengan orang lain,
sebaiknya kita bersaing dengan diri sendiri. Berlomba menjadi lebih baik dari
diri kita hari ini dan kemarin. Itu juga dah susah sih, mengingat 3 minggu
tesis tidak disentuh hufth hehehe..
sumber gambar: http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/keep-calm-and-use-nyinyir-properly-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar