Rabu, 11 Maret 2015

Nyinyir













Rekan kantor keluar dari toilet, ia baru saja bersiap akan sembahyang sore. Kami lalu menyorakinya, tumben-tumben sembahyang. “Weits… Yang mau umroh mendadak rajin euy”, diiringi tawa keras. Belum lama ia memang bilang akan melakukan wisata dan ibadah rohani. Wajahnya pun memerah sambil mulutnya bingung hendak berkata apa. Padahal biasanya balasan ledekan yang lebih pedas akan cepat keluar dari mulutnya.

Tas sudah ditaruh di rak di atas KRL, tinggal mengatur posisi kaki dan ponsel pun diambil dari kantong bersiap memainkan gim. Kemudian terdengar suara dari kabin masinis mengingatkan mengenai tujuan KRL menuju Bogor, supaya tidak ada penumpang yang salah naik. Disambung dengan kalimat yang sama berbahasa Inggris. Dua perempuan di sampingku mendadak ramai, “biasa aja kali, ga usah pake Bahasa Inggris. Ga tau kali ya penumpangnya orang Bojong semua hahaha…”, ujar salah satu. Yang lain pun membalas, “kayanya ada bacaannya di bawahnya tuh”. Tidak yakin dengan kefasihan orang yang berbicara dari kabin. Padahal sepertinya bahasa Inggris yang terdengar lumayan baik pengucapannya, setidaknya bagi telingaku yang budeg ini. 

Nyinyir, rasanya itu kata yang tepat menggambarkan. Lebih mudah memang berkomentar dan nyinyir (kbbi: cerewet). Padahal kalau mau berkaca, mungkin kita belum pantas untuk nyinyir. Belum beribadah rutin dan berkualitas. Belum berani bersuara dengan bahasa asing di forum dengan banyak orang.
Nyinyir sih sepertinya tidak apa-apa, selama memang sudah bisa menunjukkan kepada orang lain kemampuan kita dan mendapatkan pengakuan orang lain. 

Siang ini menggunakan jaringan internet di kantor (ya ini mungkin salah satu bentuk korupsi heheh…) menonton Hell’s Kitchen Indonesia. Kalau versi Hollywood mengandalkan kegalakan Chef Gordon Ramsay, maka “devil” di versi Indonesia adalah Chef Juna. Sebanyak 22 orang laki-laki dan perempuan yang menjadi peserta reality show ini harus memasak di dapur restoran Hell’s Kitchen di bawah tekanan dan teriakan Chef Juna. Tidak jarang mendapatkan perkataan melecehkan. Tapi ini justru menjadi daya Tarik acara ini, dan semua penonton menerimanya karena merasa Chef Juna pantas untuk nyinyir karena kapasitasnya sebagai chef sudah tidak diragukan lagi.

Jadi nyinyir sih tidak dilarang, tapi sesuaikan dengan kapasitas diri. Harus terus upgrade kapasitas setiap hari. Rasanya sempat juga terbaca atau terdengar hari ini, bodoh kalau kita bersaing dengan orang lain, sebaiknya kita bersaing dengan diri sendiri. Berlomba menjadi lebih baik dari diri kita hari ini dan kemarin. Itu juga dah susah sih, mengingat 3 minggu tesis tidak disentuh hufth hehehe..    

sumber gambar: http://www.keepcalm-o-matic.co.uk/p/keep-calm-and-use-nyinyir-properly-2/

Tidak ada komentar: